Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

Hadits Shahih & Dha’if Ketika Ada Wabah


Dalam keadaan yang genting seperti saat ini ketika Pandemi Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) telah menjadi wabah yang mengglobal. Covid-19 telah menginfeksi warga dunia di berbagai negara tak terkecuali Indonesia sebagai negeri dengan mayoritas muslim

Maka para ulama dan ahli agama supaya berhati-hati dalam berfatwa dan hanya menggunakan dalil dalil yang otoritatif dalam membimbing ummat. Diantaranya, hendaknya hanya menggunakan hadits-hadits yang shahih dan meninggalkan hadits dha’if dalam berhujjah

Hadits-hadits shahih yang bisa dijadikan sebagai hujjah dlm membimbing ummat untuk menghadapi wabah penyakit antara lain sebagai berikut:

Hadis Shahih 1

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)

Hadis Shahih 2

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Hadis Shahih 3

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat” (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn Abbas)

Hadis Shahih 4

Tentang Anjuran Sholat di rumah ketika hujan pada siang hari Jum’at
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ
قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ
dari Abdullah bin Abbas dia mengatakan kepada muadzinnya ketika turun hujan (pada siang hari Jum’at), jika engkau telah mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, ” maka janganlah kamu mengucapkan “Hayya alash shalaah, ” namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di persinggahan kalian)” Abdullah bin Abbas berkata ; “Ternyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata ; “Apakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Shalat jumat memang wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar sehingga kalian berjalan di lumpur dan comberan” (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah ibn Abbas)

Hadis Shahih 5

Hadis panjang riwayat Bukhari Muslim yang artinya sbb

Pada suatu ketika Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu “Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada ‘Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish

Lalu Umar menyerukan kepada rombongannya ; Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! Abu Ubaidah bin Jarrah bertanya ; Apakah kita hendak lari dari takdir Allah? Jawab Umar ; Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu Ubaidah? Agaknya Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah?

Tiba-tiba datang Abdurrahman bin Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata ; Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri. Ibnu Abbas berkata ; Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun Diantara hadis hadis dhaif yg sering digunakan adalah :

Hadis Dhaif 1

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

Sesungguhnya apabila Allah taala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang2 yg meramaikan masjid

Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232)

Hadis ini dinyatakan sebagai hadis dhaif oleh Nashir al-Din al Albani dalam kitab Silsilat al-ahadits al-Dhoifat wa al-Maudhu’at, juz IV, hal. 222, hadis no 1851

Hadis Dhaif 2

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka

Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341)

Hadis ini adalah hadis dhaif (lihat Nashiruddin al-Albani, Shahih wa Dha’if al-Jami al-Shoghir, juz IV, hal 380, hadis no 1358)

Hadis Dhaif 3

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ ”

Allah عز وجل berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946]

Hadis ini dhoif Jiddan (Lihat Nashiruddin al-Albani, Kitab Shahih wa Dha’if al-Jami’ al-Shaghir, juz 9, hal. 121, hadis no. 3674)

Hadis Dhaif 4

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ”

Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: “Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”

Hadis ini Dhaif (Lihat Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Dha’ifah, juz IV, hal. 350, hadis no 1851)

Hadits Dhaif : Bintang Tsurayya Pertanda Hilangnya Wabah

Akhir-akhir ini beredar di sosmed bahwa berakhirnya virus corona dengan munculnya bintang Tsurayya. Hal ini dilandasi dengan Hadist Nabi yang berbunyi:

إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ رُفِعَتِ الْعَاهَةُ

“Apabila terbit bintang (Tsurayya) pada suatu pagi, maka diangkatlah penyakit.”

Maka penjelasannya adalah Wabah Corona itu merupakan ujian keimanan. Dengan corona akan terlihat siapa hamba Alloh yang bertawakal hanya kepada Alloh dan siapa yang justru menggantungkan harapannya kepada makhluk.

Ibarat kekeringan dan kemarau panjang, semua manusia menanti turunnya hujan, saat ini manusia menanti kapan wabah Corona akan dihilangkan ? Bulan ramadhan kah ? Di musim haji kah ?

Ketika datang nikmat Alloh dengan diangkatnya satu musibah, saat itu pula datang lembaran baru sebuah cobaan, ada diantara hamba Alloh yang bersyukur kepada-Nya, namun kebanyakan manusia kufur terhadap nikmat Alloh.

Kondisi manusia di atas sama seperti apa yang dikisahkan shahabat Zaid bin Khalid radhiallahu ‘anhu dalam hadits berikut:

صَلىَّ بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَّةِ فِيْ إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلىَ النَّاسِ فَقَالَ: هَلْ تَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْناَ بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ؛ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوَاكِبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا؛ فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوَاكِبِ

Suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat subuh bersama kami, setelah pada malam harinya turun hujan. Usai shalat, Rasululloh menghadap para shahabat dan berkata, “Tahukah kalian apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?”

Mereka berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Pada pagi hari ini ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir.

Barang siapa (di pagi ini setelah turun hujan-pent) mengatakan: Kami diberikan hujan dengan fadhilah (keutamaan) dari Allah dan rahmat-Nya maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang.

Adapun orang yang (setelah hujan justru) mengatakan: “Kita mendapat hujan karena bintang ini dan itu, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.’” (HR. al-Bukhari, 2/433—434 dan Muslim, no. 71)

Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi: “Hadits ini menunjukkan bahwa menyandarkan / menisbatkan (nikmat) turunnya hujan kepada bintang-bintang adalah kekufuran.” (Al Jadid hal. 273)

Syirik dan Kufur Nikmat yang tersebut dalam hadits ini bukanlah kekufuran atau Kesyirikan yang mengeluarkan dari Islam, apabila sang pelaku meyakini bahwa penyandaran hujan kepada bintang hanyalah penyandaran akibat kepada sebabnya (yakni meyakini bahwa bintang hanyalah sebab), dan tetap meyakini bahwa pemberi nikmat hanyalah Alloh. Ini kufur asghor, tetapi jika ia meyakini bahwa yang memunculkan nikmat adalah makhluk (misal bintang), dan makhluk-makhluk itulah yg menciptakan nikmat maka ini adalah kufur Akbar mengeluarkan dari agama (I’anatul Mustafid (2/151))

Dari hadits ini sudah seharusnya kita mengambil pelajaran untuk hanya bergantung kepada Alloh dalam menghadapi ujian wabah corona dan senantiasa meminta kepada Alloh agar wabah Corona ini diangkat atas kaum muslimin secara khusus dan manusia secara umum, karena Dia sajalah Dzat yang mampu menyingkap segala kesulitan.

Bukan justru menyandarkan usainya wabah kepada bintang Tsurayya, atau bintang bintang yang lain. Alloh ciptakan bintang bintang bukan sebagai sebab turunnya hujan atau sebab hilangnya penyakit, Alloh ciptakan bintang untuk menghiasai langit dunia, sebagai alat penunjuk arah, bukan sebagai sebab hilangnya musibah-musibah.

Apabila dikatakan: “Kami punya dalil yaitu hadits

إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ رُفِعَتِ الْعَاهَةُ

“Apabila terbit bintang (Tsurayya) pada suatu pagi, maka diangkatlah penyakit.”

Maka ketahuilah bahwa hadits ini lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah. Berikut ini pembahasannya.

Derajat Hadits Bintang Tsuroyya

Hadits di atas yang dijadikan sandaran untuk menetapkan bahwa wabah Corona akan berakhir ketika terbit bintang Tsurayya, maka hadits ini tidak sah dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (2/341,388), Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (3/92) dan ‘Uqoili dalam Adh-Dhu’afa hal. 347.

Dalam sanad hadits ini ada seorang bernama: ‘isl bin Sufyan, berkata ‘Uqoili:

في حديثه وهم قال البخاري فيه نظر

Pada hadits ‘Isl ada kerancuan, Al Bukhori berkata tentangnya: Padanya ada catatan.

Syaikh Al Albani melemahkan hadits ini dalam Silsilah Dhoifah (1/573).

Disamping kelemahan padanya, hadits dhoif ini juga membuka jalan yang mengantarkan manusia untuk bergantung kepada bintang Tsurayya, dan ini menyelisihi tauhid dan merusak tauhid.

Jika seorang meyakini bahwa bintang Tsuroyya lah yang mengangkat Corona maka ini adalah syirik Akbar, mengeluarkan dari Islam, karena dia telah meyakini ada Robb lain yang mengatur dan mengangkat penyakit selain Alloh.

Apabila hanya meyakini bahwa keluarnya bintang Tsuroyya adalah sebab terangkatnya Corona, maka ini tergolong syirik asghor.

Semoga Alloh segera mengangkat wabah ini, dan melimpahkan kepada kita semua keamanan serta memudahkan kita untuk kembali melangkahkan kaki ke masjid masjid Alloh, memenuhi majelis majelis ilmu, baik di negeri ini atau negeri negeri lainnya.

Demikian sedikit yang bisa disampaikan dalam jawaban pertanyaan Semoga kita diselamatkan dari kesyirikan yang menjauhkan kita dari keridhoan-Nya. Amin

Senin, 20 April 2020

Hadits Dha'if : Istana Emas Di Surga Karena Memaafkan


Sebagaimana biasa menjelang bulan Ramadhan akan banyak nasehat-nasehat dan ajakan-ajakan untuk berbuat kebaikan. Biasanya disertai dengan sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Salah satu riwayat yang beredar adalah anjuran memaafkan untuk mendapatkan istana di surga. Riwayat ini dilabeli shahih oleh mereka yang menyebarkannya.

Inilah hadits yang beredar tersebut :

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah perbincangan dengan para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi beliau yang putih dan rapih. Umar r.a. yang berada di di situ, bertanya,  "Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?"

Rasulullah SAW menjawab,
"Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.

Allah SWT berfirman, "Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya?"

Orang itu berkata,  "Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya."

Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Beliau Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis... Lalu, beliau Rasulullah berkata,
"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.
Lalu Allah berfirman kepada orang yang mengadu tadi, "Angkat kepalamu..!"

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata,"Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana2 sangat megah yang terbuat dari emas, dan di dalamnya terdapat singgasana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan berlian, intan dan permata. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syuhada yang mana, ya Rabb?’

Allah berfirman, "Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."

Orang itu berkata, "Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?"

Allah berfirman, "Engkau juga mampu membayar harganya."

Orang itu terheran-heran, sambil berkata, "Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?"

Allah berfirman, "Caranya, engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku."

Orang itu berkata, "Ya Rabb, kini aku memaafkannya."

Allah berfirman, "Kalau begitu, pegang tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu."

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. bersabda, "Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin." (HR. Al-Hakim, dengan sanad yang shahih)

Setelah diadakan penelusuran terhadap hadits diatas, akhirnya didapat kesimpulan sebagai berikut:

Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Hakim dalam "Al-Mustadrok" (8718) dari jalan Abdullah bin Bakr As-Sahmi, telah mengabarkan kami 'Abbad bin Syaibah Al-Habathi, dari Sa'id bin Anas, dari Anas bin Malik secara marfu'.

Para Ulama melemahkan sanadnya dengan kelemahan yang berat (dha'if jiddan), 'Abbad bin Syaibah adalah rowi yang dha'if, sedang Syaikhnya yaitu Sa'id bin Anas berstatus majhul. Sebab itu penshahihan Al-Hakim sendiri dikritik oleh Al-Imam Adz-Dzahabi.

Syaikh Al-'Allamah Al-Albani berkata, "Dha'if jiddan". (Dha'if At-Targhib wat Tarhib 1469)

Karena sanadnya sangat lemah maka tidak boleh diyakini sebagai sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, wa billahit tawfiq.

Selasa, 14 Agustus 2018

Hadits Dha'if - Kisah Dua Malaikat Harut dan Marut


Ibnu Hibban berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, dari Zuhair bin Muhammad, dari Musa bin Jubair, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya Adam ketika ia diturunkan oleh Allah ke bumi, para malaikat berkata, “Wahai Robb-ku, apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, kami lebih taat kepadamu dari pada bani adam (manusia)”.

Allah berkata kepada para malaikat, “Datangkan kepadaku dua malaikat dari malaikat-malaikat yang ada sehingga keduanya diturunkan ke bumi dan kita lihat bagaimana keduanya berbuat?”. Para malaikat berkata: “Wahai Rabb kami, turunkanlah Harut dan Marut”.

Kemudian keduanya pun diturunkan ke bumi, dan dinampakkanlah hiasan dunia kepada mereka berdua dalam bentuk seorang wanita yang paling cantik. Wanita itu pun datang kepada mereka berdua dan kedua malaikat itu meminta diri wanita tersebut. Sang wanita berkata, “Tidak !! Demi Allah, sampai kalian berdua mengucapkan kalimat syirik ini. Keduanya berkata, “Demi Allah, kami tidak akan berbuat syirik kepada Allah. Wanita itu pun meninggalkan mereka berdua.

Kemudian wanita itu kembali dengan membawa seorang bayi, maka kedua malaikat itu kembali meminta diri sang wanita. Sang wanita berkata, “Tidak!! Demi Allah, sampai kalian membunuh bayi ini. Kedua malaikat itu berkata, “Demi Allah, kami tidak akan membunuhnya selamanya”. Maka sang wanita pergi. Kemudian ia kembali lagi membawa segelas khamer.

Kedua malaikat kembali meminta diri sang wanita. Maka sang wanita berkata, “Tidak!! Demi Allah, sampai kalian minum khamer ini”. Akhirnya, keduanya pun meminum khamer tersebut, lalu keduanya mabuk sehingga keduanya menyetubuhi sang wanita itu, dan membunuh bayi.

Tatkala keduanya sadar, sang wanita berkata, “Demi Allah, tidak satu pun yang kalian tinggalkan dari apa yang kalian abaikan di hadapanku, kecuali telah kalian lakukan ketika kalian mabuk. Keduanya pun diperintahkan untuk memilih siksa dunia atau siksa akhirat. Maka keduanya memilih siksa dunia”.

(HR. Ahmad dalam Al-Musnad II/134 no. 6178, Ibnu Hibban dalam Shohih-nya XIV/63 no.6186, Ibnu Abi ad-Dunya dalam Al-Uqubat no.222, Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhab no.787, dan selainnya)

Derajat Hadits: Hadits ini Batil. Tidak benar datangnya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Syaikh Al-Albani berkata: Hadits ini Batil.” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah I/315 no.170)

Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam ta’liqnya terhadap Musnad Imam Ahmad berkata: “Isnad hadits ini dha’if (lemah), dan matannya Batil.” (Lihat Musnad Ahmad II/134)

Di dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang bernama Zuhair bin Muhammad At-Tamimiy Al-Marwaziy. Dia tsiqah (orang terpercaya), tapi biasa meriwayatkan hadits yang munkar, seperti hadits Harut dan Marut ini.

Selain itu, gurunya yang bernama Musa bin Jubair, dia adalah seorang perawi hadits yang mastur (tidak jelas orangnya atau diketahui jati dirinya).

Intinya, hadits ini batil baik sanad, maupun matannya.

Dan hadits ini adalah termasuk berita isra’iliyyat (berita-berita yg datang dari Bani Israil) yang terambil dari Ka’ab Al-Ahbar sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah I/315 no.170.

Dengan demikian, kita tidak boleh mempercayainya apalagi menceritakan dan menyebarluaskannya kepada orang lain baik melalui lisan maupun tulisan di berbagai media cetak sperti koran, majalah, buku maupun media elektronik seperti internet (website/blog/facebook, twitter), radio, televisi, blackberry messenger atau lainnyan, agar kita bebas dari ancaman keras Nabi bagi para pemalsu hadits atau pendusta atas nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu mempersiapkan tempat duduknya di dalam api neraka, sbgmna disebutkan dalam hadits yang mutawatir.

Kita diperbolehkan menyebarkan hadits ini dan hadits palsu dan batil lainnya kepada orang lain dengan tujuan menjelaskan kepalsuan/kedustaan dan kebatilannya kepada kaum muslimin dan memperingatkan mereka dari bahaya hadits-hadits dha’if dan palsu.

Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga kita semakin berhati-hati dalam membaca hadits-hadits dan menuntut ilmu agama.

Senin, 13 Agustus 2018

Hadits Palsu : Keutamaan Puasa, Qurban Dan Shodaqoh Pada 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah


Diantara hadits-hadits yang banyak beredar di tengah kaum muslimin melalui berbagai media cetak maupun elektronik dan ceramah ialah hadits yang menerangkan tentang keutamaan puasa dan amalan-amalan ibadah lainnya di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Adapun teks haditsnya sebagai berikut:

روي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:
1- في أول يوم من ذي الحجة غفر الله فيه لآدم ومن صام هذا اليوم غفر الله له كل ذنب.
2- وفي اليوم الثاني استجاب الله لسيدنا يوسف، ومن صام هذا اليوم كمن عبد الله سنة ولم يعص الله طرفة عين.
3- وفي اليوم الثالث استجاب الله دعاء زكريا، من صام هذا اليوم استجاب الله لدعاه.
4- وفي اليوم الرابع ولد سيدنا عيسى عليه السلام، ومن صام هذا اليوم نفى الله عنه البأس والفقر وفي يوم القيامة يحشر مع السفرة الكرام.
5- وفي اليوم الخامس ولد سيدنا موسى عليه السلام، ومن صام هذا اليوم برئ من النفاق وعذاب القبر.
6- وفي اليوم السادس فتح الله لسيدنا محمد بالخير، ومن صامه ينظر الله إليه بالرحمة ولا يعذبه أبدا .
7- وفي اليوم السابع تغلق فيه أبواب جهنم، ومن صامه أغلق الله له ثلاثين بابا من العسر وفتح الله له ثلاثين بابا من الخير.
8- وفي اليوم الثامن المسمى ” بيوم التروية “، ومن صامه أعطى له من الأجر ما لا يعلمه إلا الله.
9- وفي اليوم التاسع وهو يوم عرفة من صامه يغفر الله له سنة من قبل وسنة من بعد.
10- وفي اليوم العاشر يكون عيد الأضحى وفيه قربان وذبح ذبيحة ففي أول قطرة من دماء الذبيحة يغفر الله ذنوبه وذنوب أولاده.
ومن أطعم فيه مؤمنا وتصدق بصدقة بعثه الله يوم القيامة آمنا ويكون ميزانه أثقل من جبل أُحد.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

1. “Di hari pertama bulan Dzulhijjah Allah mengampuni (nabi) Adam, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari tersebut Allah akan mengampuni seluruh dosanya”

2. “Di hari kedua Allah mengabulkan doa sayyidina Yusuf, dan barangsiapa yang berpuasa di hari itu pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh dan tidak bermaksiat walau sekejap mata”

3. “Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari itu Allah akan mengabulkan doanya”

4. “Di hari keempat lahir sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan menghilangkan kefakiran darinya dan pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent)

5. “Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan adzab kubur”

6. “Di hari keenam Allah membukakan sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diadzab”

7. “Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan”

8. “Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barangsiapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah”

9. “Di hari kesembilan yaitu hari Arafah barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya”

10. “Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat qurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan qurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barangsiapa yang memberi makan orang mukmin dan bershadaqah, maka Allah akan mengutus baginya pada hari kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud.”

Derajat Hadits:

Derajat Hadits ini Maudhu’ (Palsu) karena tidak ada asal-usulnya yang jelas, dan tidak ditemukan di dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama sunnah syaikh Abdurrahman As-Suhaim dan DR. Abdullah Al-Faqih hafizhahumallah.

Oleh karenanya, dilarang keras menyebarluaskannya melalui media apapun seperti internet, sms, bbm, WA, majalah atau ceramah kecuali dengan tujuan untuk menjelaskan dan memperingatkan umat Islam akan kepalsuannya, agar mereka tidak meyakininya sebagai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Khusus untuk point no.9 tentang keutamaan puasa sunnah Arofah terdapat hadits Shahih yang mensyari'atkan, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab Shahihnya. Sehingga kita dianjurkan untuk mengamalkannya.


Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari bahaya hadits dha’if dan palsu yang sangat banyak beredar di tengah kaum muslim melalui berbagai media. Aamiin.