Seringkali kita mendapatkan pertanyaan tentang tata cara
niat puasa Ramadhan, apakah harus setiap malam ataukah boleh sekali untuk
sebulan, bahkan ada juga yang menanyakan lafadz niat puasa Ramadhan.
Pertama, dari mana asal melafalkan niat?
Keterangan yang kami pahami, munculnya anjuran melafalkan
niat ketika beribadah, berawal dari kesalah-pahaman terhadap pernyataan Imam
As-Syafi’i terkait tata cara shalat. Imam As-Syafi’i pernah menjelaskan:
الصَّلَاةِ لَا تَصِحُّ إلَّا بِالنُّطْقِ
“….shalat itu tidak sah kecuali dengan an-nuthq.” (Al-Majmu’
Syarh Muhadzab, 3:277)
An nuthq artinya berbicara atau mengucapkan.
Sebagian Syafi’iyah memaknai an nuthq di sini dengan
melafalkan niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud beliau rahimahullah.
Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud dengan an nuthq di
sini bukanlah mengeraskan bacaan niat. Namun maksudnya adalah mengucapkan takbiratul
ihram. An-Nawawi mengatakan,
قَالَ أَصْحَابُنَا غَلِطَ هَذَا الْقَائِلُ
وَلَيْسَ مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالنُّطْقِ فِي الصَّلَاةِ هَذَا بَلْ مُرَادُهُ
التَّكْبِيرُ
“Ulama kami (syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang memaknai
demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi’i dengan an nuthq ketika
shalat bukanlah melafalkan niat namun maksud beliau adalah takbiratul
ihram’.” (Al Majmu’, 3:277).
Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abul Hasan Al
Mawardi As Syafi’i, beliau mengatakan,
فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ – الزُّبَيْرِيُّ – عَلَى
وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ
النُّطْق بِالتَّكْبِيرِ
“Az Zubairi telah salah dalam menakwil ucapan Imam
Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat. Ini adalah takwil yang
salah, yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan adalah ketika ketika takbiratul
ihram.” (Al-Hawi Al-Kabir, 2:204).
Karena kesalah-pahaman ini, banyak kiyai yang mengkalim
bermadzhab syafiiyah di tempat kita yang mengajarkan lafal niat ketika shalat. Selanjutnya
masyarakat memahami bahwa itu juga berlaku untuk semua amal ibadah.
Sehingga muncullah lafal niat wudhu, niat tayamum, niat mandi besar, niat
puasa, niat zakat, niat sedekah, dst. Sayangnya, pak kiyai tidak mengajarkan
lafal niat untuk semua bentuk ibadah. Di saat itulah, banyak masyarakat yang kebingungan,
bagaimana cara niat ibadah yang belum dia hafal lafalnya?
Itu artinya, anjuran melafalkan niat yang diajarkan
sebagian dai, telah menjadi sebab timbulnya keraguan bagi masyarakat dalam
kehidupan beragamanya. Padahal ragam ibadah dalam Islam sangat banyak. Tentu
saja, masyarakat akan kerepotan jika harus menghafal semua lafal niat tersebut.
Padahal bukankah Islam adalah agama yang sangat mudah? Jika demikian, berarti
itu bukan bagian dari syariat Islam.
Beberapa waktu yang lalu, KonsultasiSyariah.com mendapat
pertanyaan yang cukup aneh, bagaimana lafal niat sahur yang benar? Meskipun
pertanyaan ini bukan main-main, namun kami sempat terheran ketika ada orang
yang sampai kebingungan dengan niat sahur. Bukankah ketika orang itu makan
menjelang subuh, dalam rangka berpuasa di siang harinya, bisa dipastikan dia
sudah berniat sahur?
Lagi-lagi, menetapkan amal yang tidak disyariatkan, pasti
akan memberikan dampak yang lebih buruk dari pada manfaat yang didapatkan.
Kedua, sesungguhnya niat adalah amal hati
Siapapun ulama sepakat dengan hal ini. Niat adalah amal
hati, dan bukan amal lisan.
Imam An-Nawawi mengatakan:
النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب ولا يكفي
فيها نطق اللسان مع غفلة القلب ولا يشترط
“Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan
tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak
disyaratkan dilafalkan,…” (Raudhah at-Thalibin, 1:84)
Dalam buku yang sama, beliau juga menegaskan:
لا يصح الصوم إلا بالنية ومحلها القلب ولا
يشترط النطق بلا خلاف
“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya
adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan
ulama…” (Raudhah at-Thalibin, 1:268)
Dalam I’anatut Thalibin –salah satu buku
rujukan bagi syafiiyah di Indonesia–, Imam Abu Bakr ad-Dimyathi As-Syafii juga
menegaskan:
أن النية في القلب لا باللفظ، فتكلف اللفظ أمر
لا يحتاج إليه
“Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan.
Memaksakan diri dengan mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak butuh
dilakukan.” (I’anatut Thalibin, 1:65).
Tentu saja keterangan para ulama dalam hal ini sangat
banyak. Semoga 3 keterangan dari ulama syafiiyah di atas, bisa mewakili.
Mengingat niat tempatnya di hati, maka memindahkan niat ini di lisan berarti
memindahkan amal ibadah bukan pada tempatnya. Dan tentu saja, ini bukan cara
yang benar dalam beribadah.
Ketiga, inti niat.
Mengingat niat adalah amal hati, maka inti niat adalah
keinginan. Ketika Anda menginginkan untuk melakukan seuatu maka Anda sudah
dianggap berniat. Baik amal ibadah maupun selain ibadah. Ketika Anda ingin
makan, kemudian Anda mengambil makanan sampai Anda memakannya, maka Anda sudah
dianggap niat makan. Demikian halnya ketika Anda hendak shalat dzuhur, Anda
mengambil wudhu kemudian berangkat ke masjid di siang hari yang panas, sampai
Anda melaksanakan shalat, tentu Anda sudah dianggap berniat.
Artinya modal utama niat adalah kesadaran. Ketika Anda
sadar dengan apa yang akan Anda kerjakan, kemudian Anda berkeinginan untuk
mengamalkannya maka Anda sudah dianggap berniat. Ketika Anda sadar bahwa besok
Ramadhan, kemudian Anda bertekad besok akan puasa maka Anda sudah dianggap
berniat. Apalagi jika malam harinya Anda taraweh dan makan sahur. Tentu ibadah
semacam ini tidak mungkin Anda lakukan, kecuali karena Anda sadar bahwa esok
pagi Anda akan berpuasa Ramadhan. Itulah niat.
Syaikhul Islam pernah ditanya seperti berikut:
Bagaimana penjelasan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, tentang niat puasa Ramadhan; apakah kita harus berniat
setiap hari atau tidak?
Jawaban beliau:
كُلُّ مَنْ عَلِمَ أَنَّ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ
وَهُوَ يُرِيدُ صَوْمَهُ فَقَدْ نَوَى صَوْمَهُ سَوَاءٌ تَلَفَّظَ بِالنِّيَّةِ
أَوْ لَمْ يَتَلَفَّظْ . وَهَذَا فِعْلُ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ كُلُّهُمْ
يَنْوِي الصِّيَامَ
“Setiap orang yang tahu bahwa esok hari adalah Ramadhan
dan dia ingin berpuasa, maka secara otomatis dia telah berniat berpuasa. Baik
dia lafalkan niatnya maupun tidak ia ucapkan. Ini adalah perbuatan kaum
muslimin secara umum; setiap muslim berniat untuk berpuasa.” (Majmu’ Fatawa,
6:79)
Keempat, niat puasa Ramadhan
Untuk puasa wajib, seorang muslim wajib berniat sebelum
masuk waktu subuh. Hal ini berdasarkan hadis dari Hafshah radhiallahu
‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من لم يُبَيِّتِ الصيامَ من الليل فلا صيامَ له
“Barangsiapa yang belum berniat puasa di malam hari
(sebelum subuh) maka puasanya batal.” (HR. An Nasa’i dan dishahihkan Al
Albani)
Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ
الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar,
maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu khuzaimah, baihaqi)
Ketentuan ini berbeda dengan puasa sunah. Berdasarkan
riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
menemui Aisyah di siang hari di luar Ramadhan, kemudian beliau bertyanya:
هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاءٌ؟ وَإِلَّا , فَإِنِّي
صَائِمٌ
“Apa kamu punya makanan untuk sarapan? Jika tidak,
saya tak puasa.” (HR. Nasai, Ad-daruquthni, Ibnu Khuzaimah)
Kelima, apakah boleh berniat puasa langsung sebulan
penuh, ataukah harus tiap malam mengulang niat?
Pada prinsipnya, ketika kita sadar bahwa besok pagi mau
puasa, maka kita sudah dianggap berniat. Apalagi jika kita makan sahur. Bisa
dipastikan kita sudah niat.
Namun bolehkah seseorang melakukan niat di awal Ramadhan
untuk berpuasa penuh satu bulan? Sehingga apabila lupa atau karena ada faktor
lainnya, yang menyebabkan tidak sempat berkeinginan puasa, tetapi tetap sah
puasanya.
Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di antara ulama
mengenai niat puasa pada bulan Ramadhan apakah harus berniat setiap malam atau
niat puasa sebulan penuh di awal bulan Ramadhan. Insya Allah pendapat yang kuat
adalah boleh.
Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata,
اختلَفَ العُلماءُ: هل يَكْفِي لصَوْمِ شَهْرِ رَمضانَ
نِيَّةٌ واحدةٌ في أَوَّلِه، أو لا بُدَّ لكلِّ صَوْمِ يومٍ مِن نِيَّةٍ خاصَّةٍ مُسْتَقِلَّةٍ؟
فذَهَبَ المالِكِيَّةُ إلى: أنه يُجْزِئُ صَوْمُ شَهْرِ رمضانَ بنِيَّةٍ واحدةٍ تكونُ
في أوَّلِ الشهْرِ، وكذا في صيامٍ مُتتابِعٍ مِثْلِ كَفَّارَةِ جِماعٍ في رمضانَ، وكَفَّارَةِ
قَتْلٍ وظِهارٍ، ما لم يَقْطَعْهُ بسفَرٍ، أو مَرَضٍ، أو يكونُ على حالةٍ يَجوزُ له
الفِطْرُ، كحَيْضٍ ونِفَاسٍ ونحوَ ذلك، فيَلزمُه
ستئنافُ النِّيَّةِ، وهو روايةٌ عن الإمامِ أحمدَ، اختارَها مِن أصحابِه جماعةٌ:
منهم أبو الوَفاءَ بنُ عَقيلٍ.
واسْتَدَلُّوا على ذلك: بما في الصحيحينِ: ((إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ)، وهذا قد نوى جميعَ الشهْرِ، ورمضانُ بِمَنْزِلَةِ عِبادةٍ
واحدةٍ.
وذَهَبَ الْجُمهورُ إلى: أنَّ كُلَّ يومٍ عِبادةٌ
مُسْتَقِلَّةٌ بذَاتِها يَحتاجُ إلى نِيَّةٍ خاصَّةٍ بها.
وتَظْهَرُ النتيجةُ فيما لو نامَ مُكَلَّفٌ في رمضانَ،
أو صيامِ كَفَّارَةٍ، وذلك قبلَ الغروبِ إلى ما بعدَ الصُّبْحِ، فعلى القولِ الأوَّلِ
يَصِحُّ صَوْمُه، وعلى الثاني لا يَصِحُّ؛ لأنه لم يُبَيِّتْ نِيَّةَ الصوْمِ الواجبِ
مِن الليلِ، والقولُ الأَوَّلُ أَرْجَحُ.
“Ulama berselisih pendapat apakah mencukupi untuk puasa
bulan Ramadhan satu niat saja pada awal bulan atau harus berniat setiap hari
dengan niat yang berbeda.
[pendapat pertama] Ulama Malikiyah berpendapat bahwa
cukup satu niat saja pada awal bulan Ramadhan sebagaimana puasa (2 bulan)
berturut-turut pada kafarah jima’ di bulan Ramadhan, kafarah pembunuhan dan
dzihar, selama ia tidak bersafar, sakit atau keadaan yang membolehkan tidak
berpuasa seperti haid dan nifas maka wajib memulai niat baru. Pendapat ini juga
diriwayatkan dari Imam Ahmad dan mayoritas pengikutnya seperti Abul Wafa’ bin
‘Aqiil.
Pendapat ini menyatakan niat digabung dalam satu bulan
karena bulan ramadhan merupakan suatu kesatuan ibadah. Mereka berdalil dengan
hadits yang terdapat di Bukhari-Muslim “sesungguhnya Amal itu tergantung
niatnya.”
[pendapat kedua] Jumhur ulama berpendapat bahwa setiap
harinya (di bulan Ramadhan) adalah ibadah yang berdiri sendiri dan membutuhkan
niat khusus di setiap harinya. Dampaknya jika sesorang yang mukallaf tidur pada
bulan Ramadhan atau pada puasa kafarah (hukumnya wajib juga, pent), tidurnya
sebelum tenggelamnya matahari dan bangun
setelah subuh, maka menurut pendapat pertama sah puasanya sedangkan menurut
pendapat kedua puasanya tidak sah karena ia tidak berniat di malam hari, dan
pendapat yang rajih adalah pendapat pertama.” [Taudhil Ahkam II/659]
Syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah
ditanya,
هل كل يوم يُصام في رمضان يحتاج إلى نية أم تكفي
نية صيام الشهر كله؟
Apakah dalam bulan Ramadhan kita perlu berniat setiap
hari ataukah cukup berniat sekali untuk satu bulan penuh?
Syaikh menjawab,
الجواب: يكفي في رمضان نية واحدة من أوله، لأن الصائم
وإن لم ينو كل يوم بيومه في ليلته فقد كان ذلك في نيته من أول الشهر، ولكن لو قطع الصوم
في أثناء الشهر لسفر، أو مرض، أو نحوه وجب عليه استئناف النية؛ لأنه قطعها بترك الصيام
للسفر والمرض ونحوهما.
“Cukup dalam seluruh bulan Ramadhan kita berniat sekali
di awal bulan, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada
malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika
puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya,
maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadhan itu dengan
meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya. [Fatawa Arkanil
Islam 5/11]
Wallahua'lam.
Wallahua'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar