Sabtu, 03 Maret 2018

Hadits Palsu: Tentang Keislaman Orang Tua Rasulullah Dan Selamat Dari Neraka


Hadits Pertama:

عن عائشة قالت : «حج بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع ، فمرّ بي على عقبة الحجون وهو باكٍ حزين مغتم فنزل فمكث عني طويلاً ثم عاد إلي وهو فرِحٌ مبتسم ، فقلت له فقال : ذهبت لقبر أمي فسألت الله أن يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله »
Dari ‘Aisyah ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan haji bersama kami saat haji wada’. Lalu beliau bersamaku melintasi tempat yang bernama Hajuun dalam keadaan menangis dan sedih. Beliau pun turun (dari kendaraannya) dan menjauh dariku dalam waktu yang lama, kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Aku tanyakan kepada beliau (apa yang terjadi), dan beliau menjawab : “Aku tadi pergi ke kubur ibuku dan berdoa kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali hingga ia (ibuku) beriman kepadaku. Maka Allah pun mengembalikannya ke dunia ini lagi”.

Status hadits : Maudhu’ (palsu).

Hadits ini dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Haawiy lil-Fataawaa 2/278. Diriwayatkan oleh Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (no. 207), Ibnu Syaahin dalam An-Naasikh wal-Mansuukh (no. 656), dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudhuu’aat (1/283-284) dari beberapa jalan, dari Muhammad bin Yahya Az-Zuhriy Abu Ghaziyyah, dari ‘Abdul-Wahhaab bin Musa, dari Abuz-Zinaad (dalam sanad lain : dari Ibnu Abiz-Zinaad), dari Hisyaam bin ‘Urwah, (dari ayahnya), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa.

Muhammad bin Yahya Az-Zuhriy.
Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruk”. Ia juga berkata : “Dari ‘Abdil-Wahhaab bin Musa, ia telah memalsukan (hadits)”.
Al-Azdiy berkata : “Dha’iif
[lihat Miizaanul-I’tidaal 4/62 no. 8299, Al-Mughni fidh-Dhu’afaa’ 2/642 no. 6071, dan Adh-Dhu’afaa wal-Matrukiin lid-Daaruquthniy hal. 219 no. 483].

Berikut komentar para ulama tentang hadits tersebut :
Ibnul Jauzi mengatakan,
هذا حديث موضوع بلا شك ، والذي وضعه قليل الفهم عديم العلم ، إذ لو كان له علم لعلم أن من مات كافراً لا ينفعه أن يؤمن بعد الرجعة
Hadits ini palsu – tanpa keraguan -, orang yang memalsukannya, pemahaman rendah, gak berilmu. Karena, andai dia punya ilmu, dia akan tahu, bahwa siapapun yang mati dalam kondisi kafir, imannya setelah dikembalikan ke bumi, tidak akan bermanfaat baginya.

Kemudian Ibnul Jauzi membawakan keterangan gurunya,
قال شيخنا أبو الفضل بن ناصر : هذا حديث موضوع وأم رسول الله صلى الله عليه وسلم ماتت بالأبواء بين مكة والمدينة ودفنت هناك وليست بالحجون ” انتهى .
Guru kami Abul Fadhl bin Nashir mengatakan, Hadits ini palsu. Ibu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal di daerah al-Abwa, antara Mekah dan Madinah, dan dimakamkan di Abwa, dan bukan di al-Hajun. (al-Maudhu’at, 1/283). Al-Hajun adalah satu tempat yang ada di Mekah.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata,
وأما الحديث الذي ذكره السهيلي وذكر أن في إسناده مجهولين إلى أبي الزناد عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سأل ربه أن يحيي أبويه ، فأحياهما وآمنا به : فإنه حديث منكر جدًا
Untuk hadis yang disebutkan as-Suhaili, dan beliau sebutkan bahwa dalam sanadnya ada banyak perawi majhul, hingga Abu Zinad, dari Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada rabnya untuk menghidupkan kedua orang tuanya. Lalu hidupkan, dan mereka beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa hadis ini munkar sekali. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/343).

Mula Ali al-Qori berkata ketika menjelaskan hadis ini,
موضوع ، كما قال ابن دحية ، وقد وضعت في هذه المسألة رسالة مستقلة
Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnu Dihyah. Saya telah menulis satu risalah khusus dalam masalah ini. (al-Asrar al-Marfu’ah, hlm. 83).

Ad-Daaruquthniy berkata : “Isnad dan matannya baathil” [Lisaanul-Miizaan, hal. 479 no. 5300 – biografi ‘Aliy bin Ahmad Al-Ka’biy].
Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini baathil” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 123 no. 207].
Adz-Dzahabiy berkata : “Hadits dusta” [Miizaanul-I’tidaal, 2/684 no. 5326 – biografi ‘Abdul-Wahhaab bin Musa].
Ibnu Katsir berkata : “Sangat munkar (munkarun jiddan) para perawinya tidak diketahui (majhul)” [Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah oleh ‘Ali Al-Qaariy – yang dicetak dalam ‘Aqiidatul-Muwahhidiin oleh ‘Abdullah bin Sa’diy Al-Ghaamidiy Al-‘Abdaliy hal. 481].


Hadits Kedua:

عن عمران بن حصين عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم قال : « سألت ربّي عزّوجل أن لا يدخل أحداً من أهل بيتي النّار فأعطانيها»
Dari ‘Imraan bin Hushain, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku memohon kepada Rabb-ku ‘azza wa jalla untuk tidak memasukkan satupun dari keluarga (ahlul-bait)-ku ke neraka. Maka Allah pun mengabulkannya”.

Status hadits : Maudhu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Ibnu Basyraan dalam Al-Amaaliy (56/1) : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sahl Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Ziyaad Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hanafiy : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Hamzah Ats-Tsamaaliy, dari Abu Rajaa’, dari ‘Imraan bin Hushain secara marfu’.

Abu Hamzah Ats-Tsamaaliy, ia bernama Tsaabit bin Abi Shafiyyah.
Ahmad dan Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak ada apa-apanya (laisa bi-syai’)”.
Abu Zur’ah berkata : “Layyin (lemah)”.
Abu Haatim berkata : “Layyinul-hadiits, ditulis haditsnya, namun tidak dipakai sebagai hujjah”.
Al-Jauzajaaniy berkata : “Waahiyul-hadiits”.
An-Nasa’iy berkata : “Tidak tsiqah”.
Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruk”.
Ibnu Hajar berkata : “Dha’iif, orang Raafidhah”.
[lihat Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 1/363 no. 1358, Tahdzibut-Tahdziib 2/7-8 no. 10, dan Taqriibut-Tahdziib hal. 185 no. 826].

Muhammad bin Yunus, ia adalah Ibnu Musa bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin Rabii’ah bin Kudaim As-Saamiy Al-Kudaimiy, Abul-‘Abbaas Al-Bashriy.
Ad-Daruquthniy memasukkan dalam kitabnya Adh-Dhu’afaa.
As-Sahmiy berkata : Aku mendengar Ad-Daaruquthniy berkata : “Al-Kudaimiy dituduh memalsukan hadits”.
Al-Aajurriy berkata : “Aku mendengar Abu Dawud membicarakan Muhammad bin Sinan dan Muhammad bin Yunus, memutlakkan pada (hadits)-nya kedustaan”.
Ibnu Hibbaan berkata : “Ia memalsukan hadits dari orang-orang tsiqah”.
Adz-Dzahabiy berkata : “Haalik (orang yang binasa)”.
[lihat selengkapnya pada Al-Mughniy fidh-Dhu’afaa 2/646 no. 6109, Adh-Dhu’afaa wal-Matruukiin hal. 221 no. 488, Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 3/106-107 no. 4233, dan Tahdzibut-Tahdziib 9/539-544 no. 886].

Hadits Ketiga:

عن ابن عمر رضي الله عنه عن النّبيّ صلى الله عليه وسلم أنّه قال : « إذا كان يوم القيامة شفعت لأبي وأمّي وعمّي أبو طالب وأخ لي كان في الجاهليّة »
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Pada hari kiamat nanti, aku akan memberi syafa’at kepada ayahku, ibuku, pamanku Abu Thaalib, dan saudaraku semasa Jahiliyyah”.

Status hadits : Maudhu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Tammaam dalam Fawaaid-nya (2/45) : Telah menceritakan kepada kami Abul-Haarits Ahmad bin Muhammad bin ‘Ammaarah bin Abil-Khaththaab Al-Laitsiy dan Muhammad bin Harun bin Syu’aib bin ‘Abdillah, mereka berdua berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ahmad bin Ibrahim Al-Qurasyiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Sulaiman Ayyuub Al-Mukattib : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Salamah, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiyalaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Waliid bin Salamah, ia adalah Ath-Thabaraniy Al-Ardaniy.
Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruukul-hadiits”. Ia juga berkata : “Dzaahibul-hadiits (orang yang ditingalkan haditsnya)”.
Abu Haatim berkata : “Dzaahibul-hadiits”.
Al-Haakim berkata : “Ia memalsukan hadits dari orang-orang tsiqah”.
Adz-Dzahabiy berkata : “Al-Waliid bin Salamah Ath-Thabaraniy Al-Ardaniy dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, telah didustakan oleh Duhaim dan Al-Haakim”.
[lihat Al-Mughniy fidh-Dhu’afaa’ 3/772 no. 6857 dan Miizaanul-I’tidaal 4/339 no. 9372].

Al-Kinaaniy berkata dalam Tanziihusy-Syarii’ah (1/322) saat mengkritik Tammaam yang hanya mengomentari status Al-Waliid dengan munkarul-hadiits : “Bahkan ia (Al-Waliid bin Salamah) adalah pendusta (kadzdzaab) sebagaimana dikatakan oleh banyak huffaadh. Dan aku mengira ini termasuk dari kebathilannya”.

Hadits Ke-empat:

عن ابن عبّاس قال : سمعت النّبيّ صلى الله عليه وسلم يقول : «شفعت في هؤلاء النّفر : في أبي وعمّي أبي طالب وأخي من الرّضاعة ـ يعني ابن السّعديّة ـ ليكونوا من بعد البعث هباء»
Dari Ibnu ‘Abbaas ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku memberi syafa’at kepada beberapa orang ini : ayahku, pamanku Abu Thaalib, saudara sepersusuanku – yaitu Ibnus-Sa’diyyah – dimana mereka akan menjadi debu setelah hari kebangkitan”.

Status hadits : Maudhu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad (4/271), Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (hal. 128 no. 217), dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudhuu’aat (1/284-285), yang kesemuanya dari jalan : Abu Nu’aim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Faaris, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Khaththaab bin ‘Abdid-Daaim Al-Arsuufiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Al-Mubaarak, dari Syariik, dari Manshuur, dari Laits, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

Muhammad bin Faaris adalah Ibnu Hamdaan bin ‘Abdirrahman bin Muhammad bin Shabiih bin Muhammad bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdirrazzaaq bin Ma’bad, Abu Bakr Al-‘Athasyiy Al-Ma’badiy.
Al-Khathiib berkata : “Aku berkata kepada Abu Nu’aim tentangnya, lalu ia berkata : ‘Ia seorang Raafidhiy yang ekstrim dalam bid’ah Rafidhahnya. Ia juga lemah dalam hadits”. Al-Khathiib juga berkata : “Ia tidak tsiqah”.
Abul-Hasan Muhammad bin Al-‘Abbas bin Furaat berkata : “Abu Bakr Muhammad bin Faaris bin Hamdaan Al-Ma’badiy wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 361 H. Ia bukan seorang yang tsiqah, tidak pula terpuji madzhabnya”
[lihat Taariikh Baghdaad 4/271, Lisaanul-Miizaan 7/436 no. 7298, Al-Maudhuu’aat 1/284, dan Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128-129].

Tentang Khaththaab bin ‘Abdid-Daaim Al-Arsuufiy, Al-Jurqaaniy berkata : “Khaththaab ini, seorang yang lemah (Dha’iif) dan ma’ruf dengan riwayat-riwayat yang diingkari dari Yahya bin Al-Mubaarak Asy-Syaamiy” [lihat Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Adh-Dhu’afaa’ 1/210 no. 1917].

Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini baathil, tidak ada asalnya. Laits bin Abi Sulaim adalah seorang yang lemah haditsnya. Manshuur bin Mu’tamir tidak mendengar satu pun riwayat dari Laits dan tidak pernah meriwayatkannya darinya karena kedha’ifannya. Yahya bin Al-Mubaarak ini adalah Syaamiy (orang Syaam) Shan’aaniy (orang Shan’a, Yaman). Seorang yang majhuul” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 128].

Ibnul-Jauziy berkata : “Hadits ini Maudhu’ (palsu) tanpa keraguan. Adapun Laits, ia Dha’iif. Manshuur tidak meriwayatkan darinya satu riwayatpun karena kedhaifannya. Yahya bin Al-Mubaarak ini adalah Syaamiy (orang Syaam) Shan’aaniy (orang Shan’a, Yaman), majhuul. Dan Al-Khaththaab adalah Dha’iif” [Al-Maudhuu’aat, 1/284].

Hadits Kelima:

عن علي بن أبي طالب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " هبط علي جبريل فقال يا محمد إن الله يقرئك السلام ويقول إني حرمت النار على صلب أنزلك وبطن حملك وحجر كفلك. فقال يا جبريل بين لى، فقال أما الصلب فعبد الله وأما البطن فآمنة بنت وهب، وأما الحجر فعبد يعنى عبدالمطلب وفاطمة بنت أسد ".
Dari ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Jibril turun kepadaku dan berkata : ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengucapkan salam kepadamu dan berfirman : Sesungguhnya aku telah mengharamkan neraka atas tulang sulbi yang telah mengeluarkanmu, perut yang mengandungmu, dan pangkuan yang telah memeliharamu’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Jibril, terangkanlah kepadaku”. Ia (Jibril) berkata : “Adapun tulang sulbi, maka ia adalah ‘Abdullah. Adapun perut, maka ia adalah Aminah. Dan pangkuan, maka ia adalah ‘Abdul-Muthallib dan Faathimah binti Asad”.

Status hadits : Maudu’ (palsu).

Diriwayatkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudhuu’aat (1/283) dan Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil wal-Manaakir (hal. 121-122 no. 206) dari jalan Abul-Husain Yahya bin Al-Husain bin Isma’il Al-‘Alawiy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Husain Al-Hasaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Haajib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ammaar Al-‘Aththaar, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Aliy bin Muhammad bin Musa Al-Ghathaffaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun Al-‘Alawiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Aliy bin Hamzah Al-‘Abbaasiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Musa bin Ja’far, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib secara marfu’.

Al-Jurqaaniy berkata : “Hadits ini maudhu lagi baathil. Pada sanadnya terdapat lebih dari seorang perawi yang majhul. Telah berkata Abu Haatim Muhammad bin Hibbaan bin Ahmad Al-Bustiy Al-Haafidh : ‘Aliy bin Musa bin Ja’far Ar-Ridhaa meriwayatkan dari ayahnya banyak hal yang mengherankan (‘ajaaib). Meriwayatkan darinya Abush-Shalt dan yang lainnya, seakan-akan dia ragu dan keliru. Aku bertanya kepada Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan bin Muhammad perihal Abul-Husain Yahya bin Al-Husain bin Isma’il Al-Hasaniy Al-‘Alawiy. Ia berkata : ‘Ia seorang Rafidhiy ekstrim…..” [Al-Abaathil wal-Manaakir hal. 122].

Semoga ada manfaatnya. Wallaahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar