Kamis, 01 Maret 2018

Syubhat: Abu Thalib Masuk Surga


Pagi ini (1/3/2018) dating sebuah pertanyaan dari seorang rekan. Rekan ini tadi malam mengikuti sebuah pengajian di masjid dekat rumahnya, dan pengen klarifikasi atas materi yang disampaikan itu. Dengan dialek kudus yang cukup kental dia bertanya: “mau mbengi pas ngaji, mbahas kitab....lali kitab opo yo ( nek gak salah riyadussholihin hadist bab neraka.....nek gak salah yo...) jare paman nabi disebutke masuk surga setelah nok neroko disik. Bener tah ora ngono iku?”

Ternyata syubhat bahwa paman nabi yang bernama Abi Thalib masuk surge, adalah syubhat yang sudah lama tersebar. Seperti yang ditanyakan juga dibawah ini.

Tanya:
Saya membaca buku tentang Ali bin Abi Thalib.
Dalam Bab 5 tentang Keluarga Hasyim, penulis menyampaikan kontroversi tentang keislaman Abu Thalib. Dia mengutip Dr. Muhammad at Tawanjik, yang menulis, mengumpulkan dan mempelajari syair-syair Abu Talib dalam antologi Diwan Abi Talib. di hal 23 penulis menyatakan,

“Ada tiga pendapat tentangkeislaman Abu Talib. Satu golongan menganggap ia mati sebagai musyrik; golongan kedua meyakinkan ia meninggal sebagai Muslim; yang lain mengatakan ia sudah Islam dan beriman tetapi menyembunyikan keimanannya.” (cetakan miring untuk menandai kutipan sesuai asli)
Lebih lanjut, pada hlm yang sama penulis mengutip keterangan Ibn Abi al-Hadid dalam ulasannya mengenai Nahjul Balagah menengaskan:

“Secara ringkas, berita-berita tentang dia sudah menganut Islam banyak sekali, dan sumber yang mengatakan dia meninggal masih dalam kepercayaan masyarakatnya juga tidak sedikit.”

“Golongan yang mengatakan dia sudah Islam berpendapat, bahwa ketika Muhammad sallallahu’alaihi wasallam diutus sebagai nabi, Abu Talib sudah masuk Islam sudah percaya, tetapi dia tidak mau berterus terang menyatakan keimanannya. Bahkan menyembunyikannya suoaya dapat mengadakan pembelaan kepada Rasullullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Alasannya kalu ia menyatakan keislamannya, ia akan sama seperti Muslimin yang lain, Quraisy akan menjauhi dan membencinya. Mereka mengemukakan bukti-bukti keislamannya itu, antara lain, perlindungannya terhadap terhadap kemenakannya itu, ia mau menderita bersama-sama, pernyataannya dalam syair-syairnya dengan sumber yang kuat dan saat ia dalam sekarat Abbas mendengar ia mengucapkan kalimat syahadat, La ilaha illa Allah.” (dikutip sesuai asli)

Mohon pencerahannya.
Terima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kami perlu sampaikan bahwa pembahasan tentang status islam dan tidaknya Abu Thalib, bukan dalam rangka main vonis takfir atau kapling-kapling neraka untuk orang lain. Apalagi jika dianggap membenci ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jelas ini tuduhan yang sangat jauh. Kita beriman bahwa Abu Lahab mati kafir, karena Allah mencela habis di surat al-Lahab, meskipun Abu Lahab adalah paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jelas kita tidak boleh mengatakan, mengkafirkan Abu Lahab berarti membenci ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kita membahas status kekafiran Abu Thalib, dalam rangka meluruskan pemahaman, agar sesuai dengan dalil hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan mengikuti klaim kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Terkait status Abu Thalib, terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa dia mati kafir,

Pertama, peristiwa kematian Abu Thalib,

Dari Musayib bin Hazn, beliau menceritakan,
أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: ” يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ” فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ} [التوبة: 113] الآيَةَ

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di dekat Abu Thalib, beliau melihat ada Abu Jahal bin Hisyam, dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada pamannya, ”Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi utk membela paman di hadapan Allah.” Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, ’Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad, ”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah: 113. dan al-Qashsas: 56. (HR. Bukhari 1360 dan Muslim 24)

Firman Allah di surat at-Taubah:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

Firman Allah di surat al-Qashsas:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

Kedua, kesedihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kematian Abu Thalib yang tidak masuk islam.

Terkait sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap kematian Abu Thalib, turun dua ayat di atas.

1. Firman Allah di surat at-Taubah:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

2. Firman Allah di surat al-Qashas:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

Ibnu Katsir mengutip keterangan beberapa ulama tafsir sahabat dan Tabiin,
قال ابن عباس، وابن عمر، ومجاهد، والشعبي، وقتادة: إنها نزلت في أبي طالب حين عَرَضَ عليه رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن يقول: “لا إله إلا الله” فأبى عليه ذلك. وكان آخر ما قال: هو على ملة عبد المطلب.
Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, as-Sya’bi, dan Qatadah mengatakan, ayat ini turun berkaitan dengan Abu Thalib, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak dia untuk mengucapkan laa ilaaha illallah, namun dia enggan untuk mengucapkannya. Dan terakhir yang dia ucapkan, bahwa dia mengikuti agama Abdul Muthalib. (Tafsir Ibn Katsir, 6/247).

Adanya dua ayat di atas, merupakan bukti sangat nyata bahwa Abu Thalib mati dalam kondisi tidak islam.

Ketiga, beberapa hadis yang menegaskan Abu Thalib mati kafir

1. Hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟
“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

2. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ»
Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda,

“Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari 6564, Muslim 210, dan yang lainnya).

3. Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبِي طَالِبٍ هَلْ تَنْفَعُهُ نُبُوَّتُكَ؟
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Abu Thalib, apakah status kenabian anda bisa bermanfaat baginya?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
نَعَمْ، أَخْرَجْتُهُ مِنْ غَمْرَةِ جَهَنَّمَ إِلَى ضَحْضَاحٍ مِنْهَا
”Bisa bermanfaat, aku keluarkan dia dari kerak jahanam ke permukaan neraka” (HR. Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya no. 2047).

4. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ
”Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia diberi dua sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.” (HR. Ahmad 2636, Muslim 212, dan yang lainnya).

Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika Abu Thalib mati muslim, berhasil mengucapkan laa ilaaha illallah, maka status Abu Thalib adalah sahabat yang husnul khotimah. Namun Mengapa Abu Thalib malah disiksa?

Jika dia muslim, tentu beliau tidak akan mendapatkan hukuman dengan kondisi mengerikan seperti itu. Karena ketika orang masuk islam, semua dosa kekufuran di masa silam akan menjadi diampuni Allah. Sehingga jawabannya, dia disiksa karena dia meninggal dalam kondisi kafir.

Dia Penolong Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kita sepakat hal ini. Abu Thalib memiliki jasa besar, membantu dan melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dakwah di Mekah. Inipun diakui para sahabat. Dan karena jasa besar Abu Thalib, para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah beliau bisa menyelamatkan Abu Thalib?.

Ini menunjukkan bahwa para sahabat telah memahami bahwa Abu Thalib mati kafir. Karena jika Abu Thalib mati muslim, tentu para sahabat tidak akan menanyakan hal itu. Kita tidak jumpai, sahabat bertanya, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat kepada Khadijah, Hamzah, Ruqayah atau Ummu Kultsum?, para keluarga beliau yang meninggal mendahului beliau.

Karena mereka semua mati muslim. Berbeda dengan Abu Thalib, para sahabat mempertanyakan apakah posisi beliau bisa memberikan pertolongan kepada Abu Thalib yang membantu sewaktu dakwah di Mekah.

Kesaksian Abbas?

Anda bisa perhatikan hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟
“Apakah anda tidak bisa menolong paman anda?, karena dia selalu melindungi anda dan marah karena anda.”
Kita bisa memahami, Abbas bertanya demikian, karena Abbas juga meyakini bahwa Abu Thalib mati kafir.

Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad, Bukhari, dan yang lainnya. Inilah keterangan yang lebih meyakinkan tentang sikap Abbas terhadap kematian Abu Thalib. Lalu dimana riwayat yang menyebutkan keterangan Abbas bahwa Abu Thalib telah mengucapkan laa ilaaha illallaahdi detik kematiannya?

Tidak lain, keterangan ini adalah kedustaan Syiah, untuk menguatkan klaim mereka tentang keislaman Abu Thalib.

Keempat, tentang kitab Nahjul Balaghah

Penulis kitab ini Muhamad bin Husain as-Syarif ar-Ridha, tokoh syiah abad 5 H. Kitab ini berisi khutbah, nasehat, dan pesan-pesan sahabat Ali bin Abi Thalib. Namun uniknya, semuanya disampaikan tanpa sanad. Bahkan banyak ulama yang menegaskan bahwa isi buku Nahjul Balaghah adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Berikut beberapa keterangan mereka,

1. Keterangan Imam ad-Dzahabi dalam al-Mizan,

ومن طالع كتابه ” نهج البلاغة ” ؛ جزم بأنه مكذوب على أمير المؤمنين علي (ع)، ففيه السب الصراح والحطُّ على أبي بكر وعمر، وفيه من التناقض والأشياء الركيكة والعبارات التي من له معرفة بنفس القرشيين الصحابة، وبنفس غيرهم ممن بعدهم من المتأخرىن، جزم بأن الكتاب أكثره باطل
Orang yang membaca kitab ‘Nahjul Balaghah’ dia bisa memastikan bahwa itu kedustaan atas nama Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab ini terdapat celaan dan penghinaan terang-terangan kepada Abu Bakr dan Umar. Kemudian terdapat pertentangan dan berbagai macam pendapat sangat lemah, serta ungkapan yang jika dinilai oleh orang yang memahami karakter sahabat Quraisy, karakter ulama lainnya setelah mereka, maka dia bisa menyimpulkan bahwa kitab ini umumnya adalah kebatilan. (Mizan al-I’tidal, 3/124).

2. Keterangan Syaikhul Islam,

فأكثر الخطب التي ينقلها صاحب “نهج البلاغة “كذب على علي، الإمام علي (ع) أجلُّ وأعلى قدرا من أن يتكلم بذلك الكلام، ولكن هؤلاء وضعوا أكاذيب وظنوا أنها مدح، فلا هي صدق ولا هي مدح
Umumnya khutbah yang disebutkan penulis ‘Nahjul Balaghah’ adalah kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib. Imam Ali terlalu mulia untuk menyampaikan khutbah demikian. Namun mereka (syiah) membuat kedustaan dan mereka yakini sebagai bentuk pujian. Khutbah ini tidak jujur dan bukan pujian. (Minhajus Sunah, 8/28).

3. Keterangan dalam kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah,

ومن مكائدهم – أي الرافضة – أنهم ينسبون إلى الأمير من الروايات ما هو بريء منه ويحرفون عنه، فمن ذلك “نهج البلاغة” الذي ألفه الرضي وقيل أخوه المرتضى، فقد وقع فيه تحريف كثير وأسقط كثيرا من العبارات حتى لا يكون به مستمسك لأهل السنة
Termasuk penipuan mereka – orang syiah –, mereka mengklaim berbagai riwayat atas nama Amirul Mukminin Ali, yang beliau sendiri berlepas diri darinya, sementara mereka menyimpangkannya. Diantaranya kitab ‘Nahjul Balaghah’ yang ditulis oleh ar-Ridha, ada yang mengatakan saudaranya, yaitu al-Murtadha. Dalam buku ini terdapat banyak penyimpangan riwayat dan banyak ungkapan yang tidak layak, sehingga kitab ini tidak dijadikan rujukan dalam ahlus sunah. (Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyarah, hlm 36).

Allahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar