Sabtu, 10 Maret 2018

Permasalahan Bekam Itu Sunnah atau Mubah dan Upahnya


Mungkin selama ini sebagian dari mengetahui bekam adalah sunnah. Perlu diketahui ada peselisihan ulama mengenai hukum bekam (thibbun nabawi), apakah bekam ini sunnah atau bukan sunnah. Dalam hal ini kita harus berlapang dada menerima perbedaan dan saling menghormati, tidak menjadikan perbedaan seperti inisebagai sarana permusuhan. Di mana ulama yang berbeda pedapat saja tidak berdebat dan bermusuhan karena sesama kaum muslimin saling bersaudara. Begitu indahnya ajaran Islam.

Ada dua pendapat dalam hal ini:

1. Pendapat yang menyatakan bekam adalah mubah

Kami akan nukilkan pendapat syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, syaikh Abdul Muhsin Al-Badr haidzahullah, syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah, Abdul Aziz bin Abdullah Ar Rajihi hafidzahullah, Syaikh Abdurrahman bin Nashir al Barrak hafidzahullah

2. Pendapat yang menyatakan sunnah jika dibutuhkan (jika sakit)

Kami nukilkan fatwa syabakah Islamiyah dan syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini hafidzahullah

Perlu diperhatikan, walaupun hukumnya mubah maka bisa berpahala. berpahala karena kita cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya mendengar hadits beliau berbekam, kita juga berbekam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad, beliau mengetahui ada hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallami pernah berbekam dan membayar upah satu dinar. Maka beliaupun melakukan hal yang sama

Berikut rincian penjelasannya:

Pendapat yang menyatakan bekam adalah mubah

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إن الحجامة داوء لا سنة
“Hijamah (bekam) adalah pengobatan, bukan sunnah” [Syarh Shahih Bukhari]

Dalam kesempatan lain beliau berkata,

فأكل العسل مثلاً حث عليه الشارع الحكيم حين قال فيه شفاء للناس والرسول صلى الله عليه وسلم أيضاً كان يحب العسل ولكن هل نتقرب الى الله بشرب العسل ! لا طبعاً
فالذي يقول أن الحجامة سنه (عبادة ) نسأله هل كان الرسول صلى الله عليه وسلم يتقرب إلى الله عز وجل بالحجامة وما الدليل من قوله صلى الله عليه وسلم
“Meminum madu –misalnya- syariat menganjurkan diminum karena ada firman Allah “sebagai penyembuh bagi manusia” dan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai madu akan tetapi apakah kita ber-taqarrub (beribadah) kepada Allah dengan meminum madu? Tentu tidak.

Demikian juga bagi yang mengatakan bahwa bekam adalah sunnah (ibadah), kita tanyakan apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-taqarrub (beribadah) kepada Allah dengan berbekam, apa dalilnya dari perkataan shallallahu ‘alaihi wa sallam?
[Sumber: http://www.uaetd.com/vb/showthread.php?t=13624&page=59]

Syaikh Abdul Muhsin Al-Badr berkata, mejelaskan

وقد جاء في الحديث ما يتعلق بالعسل والحجامة، وكذلك الكي، وأنه يكون فيها شفاء بإذن الله عز وجل، فهذا فيه إرشاد إلى الحجامة لمن احتاج إليها علاجاً، ولكن لا يقال: إنها سنة وإن الإنسان يحتجم ولو لم يكن بحاجة إلى الحجامة.فهذا علاج وتداوٍ، والتداوي يصار إليه عند الحاجة، ولا يتداوى من غير حاجة، فالذي يحتاج إلى الحجامة يحتجم، والذي لا حاجة له إلى الحجامة فليحمد الله على العافية
“Terdapat hadits yang berkaitan dengan madu dan bekam, demikian juga kay. Padanya terdapat kesembuhan dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah petunjuk untuk berbekam bagi mereka yang menginginkan kesembuhan. Akan tetapi tidak kita katakan bahwa bekam itu sunnah. Karena manusia berbekam (untuk kesegaran) walapun tidak membutuhkan bekam (ketika sakit), maka ini termasuk pengobatan.” [syarh sunan abu Dawud]

Syaikh Muhammad Shalih Al Fauzan hafidzahullah berkata,

الحجامة مباحة, فهي علاج مباح لا يقال إنه سنة وأن الذي لا يتحجم تارك للسنة . . لا. هذا من المباحات والعلاج والأدعية من الأمور المباحات.
“Bekam adalah perkara mubah. Ia termasuk pengobatan yang mubah. Tidak dikatakan bahwa ia sunnah, sehingga orang yang tidak melakukan bekam berarti telah meninggalkan sunnah. Tidak dikatakan demikian. Bekam termasuk perkara mubah. Dan pengobatan termasuk salah satu dari perkara mubah.”

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar Rajihi hafidzahullah ditanya :

السؤال: ما هي الطريقة الصحيحة التي كان يفعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم في الحجامة؟
Bagaimana metode yang benar yang dilakukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bekam ?

Beliau hafidzahullah menjawab :

الجواب: الحجامة دواء، كان النبي يستعملها للعلاج، كان يحتجم في رأسه عليه الصلاة والسلام، وهذه تختلف ولا يقتدى بالنبي فيها؛ لأن هذا من باب العلاج، فالإنسان يذهب إلى أهل الخبرة، ولا يحتكم إلا عند الحاكم؛ لأنه قد تضر الحجامة، وإذا كان محتاجاً إلى الحجامة يحتجم سواءً في الرأس أو في غيره، وهذا ليس من التشريع حتى يقتدى بالنبي صلى الله عليه وسلم، احتجم عليه الصلاة والسلام من باب العلاج وليس من باب التشريع، فكيف تسأل عن هذا وتريد أن تقتدي به في الحجامة؟ لا؛ لأن الأحوال تختلف، إذا كنت محتاجاً إلى الحجامة، وقال أهل الخبرة: إنك محتاج إلى أن تحتجم، سواءً في الرأس أو في الظهر، أو في الفخذ أو في أي مكان فعلى حسب ما يقوله أهل الخبرة.
Bekam adalah pengobatan. Nabi dulu melakukan bekam untuk pengobatan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan bekam pada kepala beliau. Maka perkara bekam ini berbeda-beda dan tidak disyariatkan meneladani Nabi dalam perkara ini, karena bekam masuk dalam pengobatan.

Hendaknya seseorang datang kepada ahli bekam, dan jangan meminta hukum kecuali kepada ahlinya, karena boleh jadi bekam malah membahayakan. Jika dia memerlukan untuk bekam maka bisa bekam, baik pada kepala atau bagian tubuh lainnya.

Maka bekam bukanlah perkara yang disyariatkan, sehingga dianjurkan untuk mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara ini. Beliau melakukan bekam dalam rangka pengobatan, bukan dalam rangka mensyariatkan.

Maka bagaimana Engkau bertanya tentang perkara ini dan Engkau ingin meneladani Nabi dalam masalah bekam ? Tidak, keadaan seseorang itu berbeda-beda. Jika Engkau membutuhkan bekam dan ahli bekam berkata : Engkau butuh melakukan bekam, (maka boleh bekam) Sama saja di kepala, punggung, paha atau tempat lainnya sesuai dengan yang dikatakan orang yang sudah berpengalaman.
[Sumber : http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=191546]

Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Abdurrahman bin Nashir al Barrak,

السائل يقول: الحجامة هل هي سنة؟
Apakah bekam itu termasuk sunnah?

Jawaban:

Bekam adalah salah satu metode pengobatan, terapi penyakit sehingga dia tergolong perkara adat kebiasaan, bukan perkara ibadah. Perkara yang bukan ibadah yang Nabi lakukan itu menunjukkan bolehnya hal tersebut. Sehingga kesimpulannya, bekam itu hanya kita nilai hanya sebagai perkara mubah. [Sumber: http://www.islamlight.net/albarrak/sounds/save/tagryrat/a131.rm]

Pendapat yang menyatakan sunnah jika dibutuhkan (jika sakit)

Dalam fatwa syabakah Islamiyah,

وقد نص الفقهاء على أن الحجامة سنة مستحبة لمن احتاج إليها، ففي الشرح الصغير: وتجوز الحجامة بمعنى تستحب عند الحاجة اليها وقد تجب.
“Ulama menegaskan bahwa bekam adalah sunnah yang dianjurkan ketika ada kebutuhan padanya (misalnya sakit). Maka boleh berbekam, maknanya dianjurkan ketika ada kebutuhan, bahkan bisa terkadang wajib”
[Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=28338]

Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini ditanya,

السؤال: ما الدليل على أن الحجامة سنة وليست عادة؟
“Apa dalil bahwa bekam adalah sunnah bukan perkara adat (kebiasaan)?

Beliau menjawab:

الإجابة: الدليل على سنية الحجامة حضُّ النبي صلى الله عليه وسلم على تعاطيها في أحاديث كثيرة منها: “إن كان في أدويتكم شفاء ففي شرطة محجم، أو شربة عسل، أو لذعة نار وأنهى أمتي عن الكي”. وأيضاً الأحاديث التي وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم للمسلم أن يحتجم فيها، مع أحاديث أخرى كثيرة فكل ذلك يدل على السنية
“Dalil akan sunnahnya berbekam adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan pelaksanannya dalam beberapa hadits: “Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu, dan sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka) dan aku melarang ummatku melakukan kay.

Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan waktu untuk berbekam. Dengan banyaknya hadits yang lain, maka ini menunjukkan sunnahnya berbekam.”
[Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/8238]

Perkara mubah bisa menjadi ibadah

Terlepas dari ikhtilaf ulama menghukumi, apakah mubah atau sunnah. Maka seandainya kita ambil mubah, maka ia bisa menjadi bernilai pahala karena perkara mubah bisa menjadi pahala sesuai dengan niat atau ia menjadi wasilah untuk ketaatan. Misalnya berbekam agar sembuh sehingga bisa melaksanakan perintah Allah baik hal yang sunnah atau wajib. Sebagaimana tidur yang hukumnya mubah tetapi bisa berpahala.

Mu’aadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata,
أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ وَأَرْجُو فِي نَوْمَتِي مَا أَرْجُو فِي قَوْمَتِي.
“Adapun aku, maka aku tidur dan sholat malam, dan aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana pahala yang aku harapkan dari sholat malamku” [HR Al-Bukhari no 6923 dan Muslim no 1733]

Ataupun bisa menjadi berpahala karena kita cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya mendengar hadits beliau berbekam, kita juga berbekam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad, beliau mengetahui ada hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallami pernah berbekam dan membayar upah satu dinar. Maka beliaupun melakukan hal yang sama. Beliau berkata, “Tidaklah aku menulis suatu hadits melainkan aku telah mengamalkannya, sehingga suatu ketika aku mendengar hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hijamah (bekam) dan memeberikan upah kepada ahli bekam (Abu Thaybah) satu dinar, maka aku melakukan hijamah dan memberikan kepada ahli bekam satu dinar pula” [Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam Manaqib Ahmad, hal : 232]

Upah Bekam Seburuk-Buruk Pendapatan?

Menerima upah bekam diperbolehkan asal tidak menentukan tarif menurut pendapat jumhur atau mayoritas ulama’. Dalilnya sangat banyak dan beragam. Diantaranya pernyataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu sebagai berikut :

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ، وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam dan beliau memberi orang yang membekam upah. Seandainya upah bekam itu haram, tentu beliau tidak akan memberikan padanya.” (HR Bukhari : 2103, Muslim : 1202).

Hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا حَجَّامًا فَحَجَمَهُ وَسَأَلَهُ: كَمْ خَرَاجُكَ؟ فَقَالَ: ثَلاَثَة آصُعٍ، فَوَضَعَ عَنْهُ صَاعًا وَأَعْطَاهُ أَجْرَهُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil tukang bekam, lalu dia membekam beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Berapa upahmu?”
‘Tiga sha’.’ Jawab tukang bekam.
Lalu beliau memberikan satu sha’ dan beliau berikan upahnya. (HR. Ahmad 1136 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Hadits dari Ali radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَأَمَرَنِي فَأَعْطَيْتُ الْحَجَّامَ أَجْرَهُ
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan beliau perintahkan aku untuk memberikan upah kepada tukang bekamnya. (HR. Ahmad 1130, Ibnu Majah 2163 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Hadits dari Anas bin Malik

احْتَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibekam oleh Abu Thaibah, lalu beliau perintahkan agar diberi upah 2 sha’ makanan. (HR. Ahmad 12785 & Muslim 4121).

Adapun dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كَسْبِ الحَجَّامِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang upah tukang bekam.

Juga sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan :

ثمن الكلب خبيث. ومهر البغي خبيث. وكسب الحجام خبيث
“Hasil jual beli anjing adalah keji, hasil usaha pezina adalah keji, dan upah tukang bekam juga keji” (HR Muslim : 1568).

Maka disebutkan oleh sebagian ulama kita bahwa tidak setiap perkara yang disebut khabits itu lantas otomatis menjadi haram. Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan :

كسب الحجام خبيث ” ، يعني : أجرة الحجام التي يكتسبها من حجامته خبيثة ، الخبيث يطلق على الحرام ، ويطلق على الرديئ ، ويطلق على المكروه الذي تكرهه النفوس ؛
فمن إطلاقه على الحرام قوله تعالى : { ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث } [الأعراف : 157]، إذا يحرم المحرمات ، فالخبيث هنا المحرم ؛ ومن إطلاقه على الردي قوله تعالى : { ولا تيمموا الخبيث منه } [ البقرة 267]، الخبيث يعني : الرديئ ؛
“Upah bekam itu keji, maknanya upah yang diterima oleh tukang bekam dari aktifitas bekam adalah khabits/keji. Khabits/keji kadang makanya haram, kadang maknanya buruk, kadang maknanya makruh yang dibenci oleh jiwa.

Diantara khabits bermakna haram sebagaimana dalam ayat : “dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang khabits” (QS Al-A’raf : 157) makna khabits di sini adalah haram.

Diantara khabits bermakna buruk (tidak haram) sebagaimana dalam firman Allah : “Dan janganlah kamu memilih yang khabits lalu kamu menafkahkan daripadanya” (QS Al-Baqarah : 267) khabits di ayat ini maknanya buruk.”
(Syarah Bulughul Maram kaset no. 33 side A).

Kemudian pernyataan yang mengatakan bekam disebutkan bersama dengan uang zina dan uang anjing berati statusnya sama. Inipun tidak benar karena anjing ada dalil khusus yang mengharamkannya demikian pula dengan zina.

Oleh karenanya mayoritas ulama menggabungkan dua riwayat tersebut di atas dengan menyatakan bahwa larangan dari upah bekam iti sifatnya Lit Tanzih (makruh saja) dan ia menjadi boleh jika memang tidak ditentukan tarifnya.

Imam Shidiq Hasan Khan rahimahullah berkata :

وذهب الجمهور إلى أنه حلال لحديث أنس في الصحيحين وغيرهما “أن النبي صلى الله عليه وسلم إحتجم حجمه أبو طيبة وأعطاه صاعين من طعام…….. والأولى الجمع بين الأحاديث بأن كسب الحجام مكروه غير حرام
“Jumhur ulama berpendapat tentang halalnya upah tukang bekam adalah halal berdasarkan hadits Anas yang terdapat dalam Shahihain dan yang lainnya : ‘Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam, lalu beliau dibekam oleh Abu Thayyibah. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberinya upah dua shaa’ bahan makanan’……. Dan yang lebih utama adalah penggabungan di antara hadits-hadits (yang melarang dan yang memperbolehkan), bahwa upah bagi tukang bekam adalah makruh, tidak sampai pada derajat haram”
(Raudlatun Nadiyyah : 2/132).

Demikian pula Imam An-Nawawi menyatakan hal serupa :

هذه الأحاديث التي في النهي على التنزيه والارتفاع عن دنيء الأكساب والحثِّ على مكارم الأخلاق ومعالي الأمور، ولو كان حراما لم يفرِّق فيه بين الحر والعبد، فإنه لا يجوز للسيد أن يُطعم عبده ما لا يحِلُّ
“Hadits-hadits ini yang berisi larangan dibawa kepada makna tanzih/makruh dan anjuran untuk mengentaskan diri dari pekerjaan yang rendah serta anjuran untuk berkahlaq mulia serta perilaku mulia. Seandainya bekam itu haram niscaya beliau tidak akan membedakan antara budak dan orang merdeka. Karena seorang tuan tidak boleh memberi makan yang tidak halal kepada budaknya.”
(Syarah Shahih Muslim : 1/233).

Berdasarkan keterangan di atas, ulama berbeda pendapat dalam memahami upah tukang bekam,

Pertama, upah tukang bekam hukumnya mubah. Ini merupakan pendapat al-Laits bin Sa’ad, Malik dan Abu Hanifah.


Kedua, upah tukang bekam hukumnya makruh bagi orang merdeka dan mubah bagi budak. Ini merupakan pendapat Syafi’iyah dan Hanbali.

Maka dari itu memahami larangan bekam dengan sesuatu yang makruh saja dan tidak mencapai derajat keharaman merupakan pendapat yang benar dalam masalah ini sebagai bentuk penggabungan dari dua jenis dalil yang ada.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar